04
Mar
11

kasus-kasus cyber crime part 4 : Cyber Bullying

Era internet tengah menguasai kehidupan manusia. Meski demikian, sebesar apapun manfaat yang ditawarkan internet, tetap saja keberadaan plus dan minusnya ibarat sekeping mata uang. Dimana ada manfaat yang ditawarkan disitu ada juga resiko kerugian yang ditimbulkan.

Dalam hal kehidupan sosial dunia maya, salah satu ancaman serius adalah cyber bullying. Cyber bullying kurang lebih artinya tindak premanisme yang berlangsung di internet. Bentuk perilakunya berupa pelecehan ataupun merendahkan seseorang yang dilakukan secara online maupun telepon seluler.

Cyber bullying memanfaatkan pesan SMS, email, instant messaging, blog, situs jejaring sosial dan halaman web untuk mengganggu, mempermalukan dan mengintimidasi anak. Wujudnya bisa bermacam-macam, beberapa diantaranya:

  • berupa penyebaran isu-isu palsu
  • mempublikasikan foto-foto memalukan
  • pelecehan seksual
  • ancaman hingga tindakan yang berbuntut pemerasan.

yang perlu diingat Pada umumnya hal ini menimpa anak-anak dan remaja.”

Di bawah ini 2 contoh kasus/artikel mengenai cyber bullying.

Cyberbullying Facebook Kini Menyerang Para Guru

MANCHASTER (Berita SuaraMedia) – Penyalahgunaan situs jejaring sosial telah memakan banyak korban, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa dan berbagai kalangan. Bahkan guru pun kena dikerjai murid-muridnya melalui Facebook.

Satu dari tujuh staf pengajar menyebutkan mereka menjadi sasaran cyberbullying yang dilancarkan oleh rekan atau murid-murid mereka.

Seorang anggota Association of Teachers and Lecturers (ATL) menyebutkan bagaimana para pelaku cyberbullying membuat akun palsu dengan menggunakan nama korban dan membuat keterangan profil yang menggambarkan si korban merupakan pedofilia.

Diberitakan Telegraph, seorang guru senior di sekolah menengah negeri juga mengungkapkan bahwa dirinya telah menjadi korban. “Akun Facebook saya dihack oleh murid saya untuk digunakan mengirim pesan bohong kepada murid lain,” ujarnya.

Bahkan ada  siswa membuat akun Facebook palsu yang mencatut nama guru dan menyebutkan bahwa sang guru senang berhubungan seks dengan remaja putra maupun putri.

Contoh pelecehan lain misalnya dengan membobol akun Facebook guru kemudian menyebarkan pesan atau gambar tak senonoh ke siswa lain.

Pada konferensi tahunan ATL di Manchester, para aktivis organisasi ini menangani dengan serius kasus ‘cyberbullying’ yang dilakukan murid-murid kepada gurunya atau ke sesama temannya.

Sebuah survei menyebutkan, sekira 14 persen guru mengaku pernah emnjadi korban cyberbullying. Persentase ini tak hanya mencakup kasus cyberbullying di situs jejaring sosial, tapi termasuk juga video atau film yang diposting di situs berbagai video YouTube.

“Terdapat banyak insiden cyberbullying yang terkuak dalam survei ini, yang membuat korban sangat terganggu,” kata Sekretaris Umum ATL Mary Bousted.

“Sekolah-sekolah dan perguruan tinggi perlu memiliki peraturan tegas untuk menghadapi hal ini dan memastikan para siswa mendapat hukuman yang sesuai,” tandasnya.

Menurut Mary, sekolah dan kampus perlu menerbitikan kebijakan terkait hal ini dan meyakinkan agar para murid menerima hukuman yang sesuai atas perbuatannya.

Studi ini juga menemukan bahwa kepala sekolah kerap memperingatkan stafnya untuk tidak memposting foto atau detail informasi mencurigakan terkait kehidupan pribadi mereka, dan hampir seperempat guru menyebutkan bahwa mereka diminta menghilangkan informasi detail pada profil akun jejaring sosial mereka.

Inggris – Facebook seringkali disalahgunakan untuk melakukan hal-hal tidak baik. Salah satu yang memprihatinkan adalah situs jejaring itu digunakan siswa untuk melecehkan para guru.

Semantara itu, Di Indonesia sendiri, kasus serupa juga pernah terjadi, kasus guru menjadi korban olok-olok siswa terjadi di SMU Negeri 4 Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Imbasnya, para siswa yang mengolok-olok dikeluarkan dari sekolah. (ar/ok/dtk) www.suaramedia.com

Stop Cyberbullying

Apa yang anda rasakan ketika ada yang menghina anda lewat status facebook atau di twitter. Bagi anda yang sudah dewasa tentu akan merasa bahwa hal itu cuma main-main atau anda merasa perlu melaporkan ke polisi bahwa nama baik anda telah dicemarkan. Semua itu tergantung sikap dan kedewaasaan anda dalam menyelesaikannya.

Akan tetapi, bagaimana jika yang dihina adalah adik anda atau anak anda yang masih berusia remaja. Tentu saja hinaan tersebut akan memiliki efek yang berbeda. Kita tahu, kalau remaja merupakan sosok yang sedang mencari identitas diri. Internet merupakan salah satu media untuk mencari beragam informasi termasuk jati diri. Selain itu, remaja merupakan salah satu pengguna aktif internet.

Anak-anak sekarang berbeda dengan saya ketika masih masa kanak-kanak. Di jaman saya penggunaan internet tidak seaktif dan semasif sekarang. Anak-anak yang lahir diatas tahun 2000an bisa disebut dengan Digital Native. Mereka lahir dengan perkembangan teknlogi internet dan digital jauh lebih canggih dari sebelumnya. Maka wajar jika mereka mampu menggunakan telepon seluler dan internet jauh lebih cerdas dari ayah atau ibunya.

Permasalahannya adalah ketika anak-anak ini menjadi korban Cyberbullying. Perkembangan psikologi mereka akan terganggu. Misalnya saja ketika seorang anak mengejek temannya melalui status facebook. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi kondisi psikologis orang yang dihina. Parahnya jika ternyata anak menjadi korban pornografi. Di luar negeri seorang anak menjadi korban pornografi on-line oleh orang yang belum pernah dikenalnya secara langsung.

Contoh kasus lain adalah ketika seorang anak perempuan yang menghina temannya dengan menggunakan akun facebook atau twitter temannya yang lain. Tentu saja hal ini akan menjadi sebuah masalah.

Cyberbullying merupakan proses ketika anak-anak, disiksa, diancam, diganggu, atau dihina oleh anak-anak lainnya melalui internet, telepon seluler atau teknologi interaktif dan digital lainnya.

Menurut saya peran orang tua dan masyarakat menjadi penting disini. Cyberbullying harus dicegah jangan sampai penggunaan teknologi justru merugikan generasi muda. Media Literacy (Melek Media) merupakan bagian penting dalam penggunaan media yang harus dipahami oleh orang tua. Yuk, sehat menggunakan internet…😀

Bila melihat artikel kedua diatas, dapat dilihat betapa cyber bullying dapat membahayakan kondisi psikologis anak. Dan pada umumnya, anak yang menjadi korban cyber bullying tidak mau menceritakan/terbuka kepada keluarga atau orangtua. Alasannya macam-macam, bisa karena takut dimarahi, takut dibatasi akses ke internet/HP yang notabene sudah banyak digunakan oleh anak-anak jaman sekarang.

Lalu, apa tanda-tanda anak, yang menjadi  korban dari Cyber bullying? Tanda utama adalah emosi anak menjadi labil. Gampang marah, sedih dan depresi yang tidak biasa. Efek selanjutnya adalah penarikan diri dari teman-teman dan turunnya semangat belajar di sekolah. Beberapa kasus di luar negeri menyebutkan efek terburuk adalah bunuh diri.

Kalau hal-hal di atas terjadi pada anggota keluarga Anda, Anda harus segera waspada. Jika Anda telah mempelajari panduan dasar internet sehat Anda akan paham step by step langkah penyelamatan.

Yang paling penting, tentu saja simpan atau cetak bukti-bukti cyber bullying lalu identifikasi pelakunya. Kalau sudah ketemu, minta dia untuk menghentikan aksinya. Jika memungkinkan datangi orang tua pelaku dan ceritakan detail kejadian, sambil menunjukkan bukti-bukti.

Beri peringatan tegas bahwa anda akan mengambil langkah hukum jika aksi tersebut terus berlangsung.

Selanjutnya Anda ajukan keluhan kepada provider internet ataupun operator ponsel yang bersangkutan untuk ditindaklanjuti. Bila tindak cyber bullying sudah mengarah kepada tindak kekerasan, pemerasan atau pelecehan seksual, segera hubungi pihak kepolisian. Biarkan pihak berwajib yang menanganinya.

Benteng utama menangkis tindak cyber bullying tetaplah komunikasi efektif antar anggota keluarga. Perlu dijelaskan efek negatif dari penyertaan data-data pribadi ke dalam halaman situs jejaring sosial. Sebisa mungkin profile akun kita tidak menampilkan informasi yang terlalu jelas tentang tempat tinggal. Sehingga privasi seluruh anggota keluarga dapat terjamin tanpa perlu teror dari pihak manapun.

Berlanjut ke artikel pertama dimana bahkan bukan hanya anak-anak yang menjadi korban cyber bullying, tapi juga guru-guru sekolah yang dilakukan oleh muridnya sendiri. Hal ini cukup mengejutkan karena perilaku anak dapat berlanjut kepada tindakan yang lebih tidak baik bahkan kriminal. Ada baiknya orang tua lebih dekat kepada anak dan memberikan pengertian yang baik dalam internet sehat,dan selalu mengawasi penggunaan akses terhadap dunia maya maupun pergaulannya. Sedangkan bagi guru-guru mungkin dapat untuk membatasi penyebaran konten-konten pribadi di dunia maya. Dunia yang sangat bebas dan mudah untuk mendapatkan informasi darimana saja dan kapan saja.


0 Responses to “kasus-kasus cyber crime part 4 : Cyber Bullying”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Calendar

March 2011
M T W T F S S
« Nov   Apr »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Add me on YM


%d bloggers like this: