12
Oct
09

Ragam Bahasa Jurnalistik di dalam Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia sebagai  alat komunikasi sangatlah penting di dalam pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Namun, di dalam penggunaannya Bahasa Indonesia telah mengalami perkembangan di dalam cara penggunaannya di setiap kondisi dan situasi yang berbeda-beda. Hal itulah yang menimbulkan ragam bahasa di dalam Bahasa Indonesia. Salah satu ragam bahasa yang banyak dan paling sering kita temui adalah ragam bahasa jurnalistik yang akan diulas disini.

Sebelum mengetahui lebih jauh bagaimana dan hal apa yang harus diperhatikan di dalam ragam bahasa Jurnalistik, perlu diketahui bahwa ragam bahasa jurnalistik bukan hanya sekedar menggunakan bahasa baku namun juga harus lebih  menekankan pada daya kekomunikatifannya, karena sebenarnya kita melakukan komunikasi dengan pembaca melalui tulisan yang kita buat. Bagaimana cara penulisan dan hal-hal lain yang menjadi hal penting di dalam penulisan jurnalistik akan dibahas selanjutnya.

Beberapa prinsip dasar bahasa jurnalistik

(a)    Singkat, artinya bahasa jurnalistik harus menghindari penjelasan yang panjang dan bertele-tele.

(b)   Padat, artinya bahasa jurnalistik yang singkat itu sudah mampu menyampaikan informasi yang lengkap. Semua yang diperlukan pembaca sudah tertampung didalamnya. Menerapkan prinsip 5 WH, membuang kata-kata mubazir dan menerapkan ekonomi kata.

(c)    Sederhana, artinya bahasa pers sedapat-dapatnya memilih kalimat tunggal dan sederhana, bukan kalimat majemuk yang panjang, rumit, dan kompleks. Kalimat yang efektif, praktis, sederhana pemakaian kalimatnya, tidak berlebihan pengungkapannya (bombastis).

(d)   Lugas, artinya mampu menyampaikan pengertian atau makna informasi secara langsung dengan menghindari bahasa yang berbunga-bunga .

(e)    Menarik, artinya dengan menggunakan pilihan kata yang masih hidup, tumbuh, dan berkembang. Menghindari kata-kata yang sudah mati.

(f)     Jelas, artinya informasi yang disampaikan jurnalis dengan mudah dapat dipahami oleh khalayak umum (pembaca). Struktur kalimatnya tidak menimbulkan penyimpangan/pengertian makna yang berbeda, menghindari ungkapan bersayap atau bermakna ganda (ambigu). Oleh karena itu, seyogyanya bahasa jurnalistik menggunakan kata-kata yang bermakna denotatif.

Pemakaian kata, kalimat dan alinea di dalam ragam bahasa jurnalistik

  1. Pemakaian kata-kata yang bernas. Kata merupakan modal dasar dalam menulis. Semakin banyak kosakata yang dikuasai seseorang, semakin banyak pula gagasan yang dikuasainya dan sanggup diungkapkannya. Dalam penggunaan kata, penulis yang menggunakan ragam bahasa jurnalistik  dihadapkan pada dua persoalan yaitu ketepatan dan kesesuaian pilihan kata. Ketepatan mempersoalkan apakah pilihan kata yang dipakai sudah setepat-tepatnya, sehingga tidak menimbulkan interpretasi yang berlainan antara penulis dan pembaca. Sedangkan kesesuaian mempersoalkan pemakaian kata yang tidak merusak wacana.
  2. Penggunaan kalimat efektif. Kalimat dikatakan efektif bila mampu membuat proses penyampaian dan penerimaan itu berlangsung sempurna. Kalimat efektif mampu membuat isi atau maksud yang disampaikan itu tergambar lengkap dalam pikiran si pembaca, persis apa yang ditulis. Keefektifan kalimat ditunjang antara lain oleh keteraturan struktur atau pola kalimat. Selain polanya harus benar, kalimat itu harus pula mempunyai tenaga yang menarik.
  3. Penggunaan alinea/paragraf yang kompak. Alinea merupakan suatu kesatuan pikiran, suatu kesatuan yang lebih tinggi atau lebih luas dari kalimat. Setidaknya dalam satu alinea terdapat satu gagasan pokok dan beberapa gagasan penjelas.  Pembuatan alinea bertujuan memudahkan pengertian dan pemahaman dengan memisahkan suatu tema dari tema yang lain.

Terdapat empat prinsip retorika tekstual (Leech)

1. Prinsip prosesibilitas,

menganjurkan agar teks disajikan sedemikian rupa sehingga mudah bagi pembaca untuk memahami pesan pada waktunya. Dalam proses memahami pesan penulis harus menentukan (a) bagaimana membagi pesan-pesan menjadi satuan; (b) bagaimana tingkat subordinasi dan seberapa pentingnya masing-masing satuan, dan (c) bagaimana mengurutkan satuan-satuan pesan itu. Ketiga macam itu harus saling berkaitan satu sama lain.

2. Prinsip kejelasan

yaitu agar teks itu mudah dipahami. Prinsip ini menganjurkan agar bahasa teks menghindari ketaksaan (ambiguity). Teks yang tidak mengandung ketaksaan akan dengan mudah dan cepat dipahami.

3. Prinsip ekonomi

Prinsip ekonomi menganjurkan agar teks itu singkat tanpa harus merusak dan mereduksi pesan. Teks yang singkat dengan mengandung pesan yang utuh akan menghemat waktu dan tenaga dalam memahaminya. Sebagaimana wacana dibatasi oleh ruang wacana jurnalistik dikonstruksi agar tidak melanggar prinsip ini. Untuk mengkonstruksi teks yang singkat, dalam wacana jurnalistik dikenal adanya cara-cara mereduksi konstituen sintaksis yaitu (i) singkatan; (ii) elipsis, dan (iii) pronominalisasi. Singkatan, baik abreviasi maupun akronim, sebagai cara mereduksi konstituen sintaktik banyak dijumpai dalam wacana jurnalistik

4. Prinsip ekspresivitas

Prinsip ini dapat pula disebut prinsip ikonisitas. Prinsip ini menganjurkan agar teks dikonstruksi selaras dengan aspek-aspek pesan. Dalam wacana jurnalistik, pesan bersifat kausalitas dipaparkan menurut struktur pesannya, yaitu sebab dikemukakan terlebih dahulu baru dikemukakan akibatnya. Demikian pula bila ada peristiwa yang terjadi berturut-turut, maka peristiwa yang terjadi lebih dulu akan dipaparkan lebih dulu dan peristiwa yang terjadi kemudian dipaparkan kemudian.

Dengan pemaparan diatas dapat kita simpulkan bahwa bahasa jurnalistik adalah bahasa yang digunakan para jurnalis di dalam menulis berita. Bahasa jurnalistik dapat dikatakan menggunakan bahasa baku namun tetap menekankan pada sisi kekomunikatifannya. Bahasa jurnalistik juga memiliki ciri-ciri khas yakni singkat, padat, sederhana, lugas, menarik, lancar dan jelas.

Selain itu, pemakai bahasa jurnalistik yang baik tercermin dari kesanggupannya menulis paragraf yang baik. Syarat untuk menulis paragraf yang baik tentu memerlukan persyaratan menulis kalimat yang baik pula. Paragraf yang berhasil tidak hanya lengkap pengembangannya tetapi juga menunjukkan kesatuan dalam isinya.

Sumber :  http://kundharu.staff.uns.ac.id/


0 Responses to “Ragam Bahasa Jurnalistik di dalam Bahasa Indonesia”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Calendar

October 2009
M T W T F S S
    Dec »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Add me on YM


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: